Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Pengikut

Apakah Cinta-mu Benar-benar Cinta?

Semua orang bilang cinta tak terbalas itu cinta bertepuk sebelah tangan.
Cinta tidak dianggap itu bagaikan punuk merindukan bulan.
Banyak orang berusaha tegar di atas rapuhnya air mata.
Berkata “tidak apa” tapi penuh pengharapan ada bahu untuknya bersandar.
Cinta sebenarnya mengajarkan kita untuk berdusta, berdusta untuk kebaikan.

Aku belum percaya akan keajaiban cinta.
Kalau kebaikannya mungkin bisa kupaksakan untuk percaya.
Cinta indah memang di awalnya, aku setuju dengan banyak pujangga.
Sakitnya di akhir cerita sungguh bencana.
Harusnya yang namanya cinta tidak pernah ada akhirnya.
Jadi, kalau kau mencintai seseorang dan kau berkata itu berakhir menyakitkan, bisa kupastikan itu bukan cinta namanya.
Melainkan kagum semata.


Mungkin jauh entah dimana atau mungkin dekat tak tersangka, orang yang ditakdirkan dan menakdirkan diri untuk bersama kita.
Hati terkadang mengunci kedatangan pemilik yang sebenarnya.
Terbuka pada sesuatu yang jelas tidak bisa.
Terpaku pada perkataan ‘Lebih baik mencintai yang tidak pasti daripada pasti tidak’.
Padahal harusnya cinta selalu pasti.
Entah bagaimana, mungkin kau pernah merasakannya.
Mencintainya membuat kau tidak bisa selalu bersama, tapi kau tahu dia milikmu dan kau miliknya.
Begitulah cinta memberi kepastian lewat hati ke hati bukan perkataan atau perbuatan saja.
Jadi, kalau kau mencintai seseorang dan kau berkata itu tidak pasti, percayalah padaku itu bukan cinta namanya.
Melainkan kagum semata.

Duduk di bawah langit bertabur bintang.
Sementara yang lain ada disana bersamanya.
Apa yang kau tunggu?
Berharap dia menjemputmu?
Katamu ‘Cinta butuh kesabaran. Aku yakin ia akan datang dan bersamanya kujelang hari esok’
Bagaimana jika tidak ada esok? Apa yang kau tunggu?
Hati manusia siapa yang tahu? Apa yang membuatnya terikat padamu?
Banyak orang bilang ‘Cinta tak butuh banyak bicara, cukup berbuat dan setia’
Cinta butuh diikat, entah dengan apa buatlah dirimu yakin dan dirinya yakin, sejauh apapun melangkah tempat kembali hatinya nanti adalah dirimu dan dirinya.
Jadi jika kau hanya menunggu untuk dijemput, sementara saat ini tidak ada ikatan yang membuatmu harap-harap cemas menanti kehadirannya, maka jujurlah daku, bukan cinta itu namanya.
Melainkan kagum semata.

Siapa aku? Aku bukan pujangga.
Menemukan cinta sejati pun belum bisa.
Tapi, menurutku jika kau pandai-pandai menerka darimana aku terinspirasi bercerita tentang cinta maka kau luar biasa taat sebagai hamba-Nya.
Tidak perlu hubungan romansa yang romantic luar biasa untuk bisa menerjemahkan cinta.
Karena selama ini kau hidup oleh yang Maha Cinta.
Terjemahkan saja tentang apa yang sudah Dia berikan pada-Mu.
Kisah kita dengan-Nya tidak pernah berakhir, selalu penuh kepastian, dan selalu terikat.
Mungkin masih banyak ‘cinta’ dengan-Nya tapi menerjemahkan milyaran bahasa hati terlalu banyak dan memakan waktu.
Maka kumulai dengan tiga ini saja.

Mudah kan? Tidak terlihat sulit dan tidak membuatku menangis meraung sebelumnya.
Aku hanya duduk dan merenung arti hampir 20 tahun yang Dia berikan padaku.
Inilah cinta menurutku.
Jika kau mau menerka siapa cinta sejatimu.
Coba bayangkan apakah ia ada di sampingmu saat kau benar-benar membutuhkan seseorang?
Jika iya, gapailah jemarinya, buang jauh rasa malumu seburuk apapun dia.
Dan lakukanlah seperti apa yang Maha Cinta lakukan untuk  kita.
Buat itu tidak pernah berakhir, selalu penuh kepastian, dan selalu terikat.
Cinta tidak ajaib. Tapi penuh kebaikan.

Kebaikan yang membuat keajaiban. J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

nurul cindy amelia mengatakan...

hiks T.T

Posting Komentar