Semua orang
bilang cinta tak terbalas itu cinta bertepuk sebelah tangan.
Cinta tidak
dianggap itu bagaikan punuk merindukan bulan.
Banyak
orang berusaha tegar di atas rapuhnya air mata.
Berkata
“tidak apa” tapi penuh pengharapan ada bahu untuknya bersandar.
Cinta
sebenarnya mengajarkan kita untuk berdusta, berdusta untuk kebaikan.
Aku belum
percaya akan keajaiban cinta.
Kalau
kebaikannya mungkin bisa kupaksakan untuk percaya.
Cinta indah
memang di awalnya, aku setuju dengan banyak pujangga.
Sakitnya di
akhir cerita sungguh bencana.
Harusnya
yang namanya cinta tidak pernah ada akhirnya.
Jadi, kalau
kau mencintai seseorang dan kau berkata itu berakhir menyakitkan, bisa
kupastikan itu bukan cinta namanya.
Melainkan
kagum semata.
Mungkin
jauh entah dimana atau mungkin dekat tak tersangka, orang yang ditakdirkan dan
menakdirkan diri untuk bersama kita.
Hati
terkadang mengunci kedatangan pemilik yang sebenarnya.
Terbuka
pada sesuatu yang jelas tidak bisa.
Terpaku
pada perkataan ‘Lebih baik mencintai yang tidak pasti daripada pasti tidak’.
Padahal
harusnya cinta selalu pasti.
Entah
bagaimana, mungkin kau pernah merasakannya.
Mencintainya
membuat kau tidak bisa selalu bersama, tapi kau tahu dia milikmu dan kau
miliknya.
Begitulah
cinta memberi kepastian lewat hati ke hati bukan perkataan atau perbuatan saja.
Jadi, kalau
kau mencintai seseorang dan kau berkata itu tidak pasti, percayalah padaku itu
bukan cinta namanya.
Melainkan
kagum semata.
Duduk di
bawah langit bertabur bintang.
Sementara
yang lain ada disana bersamanya.
Apa yang
kau tunggu?
Berharap
dia menjemputmu?
Katamu
‘Cinta butuh kesabaran. Aku yakin ia akan datang dan bersamanya kujelang hari
esok’
Bagaimana
jika tidak ada esok? Apa yang kau tunggu?
Hati
manusia siapa yang tahu? Apa yang membuatnya terikat padamu?
Banyak
orang bilang ‘Cinta tak butuh banyak bicara, cukup berbuat dan setia’
Cinta butuh
diikat, entah dengan apa buatlah dirimu yakin dan dirinya yakin, sejauh apapun
melangkah tempat kembali hatinya nanti adalah dirimu dan dirinya.
Jadi jika
kau hanya menunggu untuk dijemput, sementara saat ini tidak ada ikatan yang
membuatmu harap-harap cemas menanti kehadirannya, maka jujurlah daku, bukan
cinta itu namanya.
Melainkan
kagum semata.
Siapa aku?
Aku bukan pujangga.
Menemukan
cinta sejati pun belum bisa.
Tapi,
menurutku jika kau pandai-pandai menerka darimana aku terinspirasi bercerita
tentang cinta maka kau luar biasa taat sebagai hamba-Nya.
Tidak perlu
hubungan romansa yang romantic luar biasa untuk bisa menerjemahkan cinta.
Karena
selama ini kau hidup oleh yang Maha Cinta.
Terjemahkan
saja tentang apa yang sudah Dia berikan pada-Mu.
Kisah kita
dengan-Nya tidak pernah berakhir, selalu penuh kepastian, dan selalu terikat.
Mungkin
masih banyak ‘cinta’ dengan-Nya tapi menerjemahkan milyaran bahasa hati terlalu
banyak dan memakan waktu.
Maka
kumulai dengan tiga ini saja.
Mudah kan?
Tidak terlihat sulit dan tidak membuatku menangis meraung sebelumnya.
Aku hanya
duduk dan merenung arti hampir 20 tahun yang Dia berikan padaku.
Inilah
cinta menurutku.
Jika kau
mau menerka siapa cinta sejatimu.
Coba
bayangkan apakah ia ada di sampingmu saat kau benar-benar membutuhkan
seseorang?
Jika iya,
gapailah jemarinya, buang jauh rasa malumu seburuk apapun dia.
Dan
lakukanlah seperti apa yang Maha Cinta lakukan untuk kita.
Buat itu
tidak pernah berakhir, selalu penuh kepastian, dan selalu terikat.
Cinta tidak
ajaib. Tapi penuh kebaikan.
Kebaikan
yang membuat keajaiban. J






1 komentar:
hiks T.T
Posting Komentar